Ubah Pikiran tentang Diri Sendiri

youth

Pernah merasa terganggu atas pendapat atau omongan orang yang menghakimi atau bernada negatif tentang dirimu? Kalau iya, ini saatnya mengubah pikiran. Bukan, maksudnya bukan mengubah pikiran orang lain tentang dirimu dengan membuktikan kalau kamu tidak seperti yang mereka bilang. Itu sih, usaha sia-sia yang cuma bakal bikin capek sendiri.

Yang dimaksud di sini adalah mengubah pikiran tentang diri sendiri—dari pikiran negatif menjadi positif. Karena sebenarnya saat kepercayaan diri bisa goyah hanya karena omongan orang, akar masalahnya adalah kurangnya kepercayaan diri, sehingga diam-diam setuju dengan pendapat orang yang negatif tersebut.

Makanya, supaya omongan orang tidak berpengaruh lagi pada percaya diri, yuk ubah pikiran soal diri sendiri! Ini saatnya kamu mengubah frase “You are your own worst enemy” jadi “You are your own biggest fan”!

Kenali Suara Negatif di Kepala

Sadar tidak sih, kalau manusia suka berbicara dengan diri sendiri? Ya, bukan cuma tokoh sinetron saja yang suka bermonolog ria. Monolog ini memang kebiasaan setiap orang, disadari atau tidak disadari. Mau sedang melihat diri sendiri di cermin, belajar, bersama teman, memikirkan seseorang, atau membuat rencana, kita pasti diam-diam berkomentar, baik tentang diri sendiri, orang lain, atau situasi tertentu.

Kalau komentarmu tentang diri sendiri positif, seperti, “Wah, cakep ya aku hari ini” atau “Susah sih, sepertinya. Tapi aku pasti bisa”, berarti percaya dirimu aman. Tapi kalau komentarnya kebanyakan mengkritik diri sendiri tanpa ampun, seperti, “Aku kan gendut/kurus banget, mana bisa keren kalau pakai baju?” atau “Ih, kenapa aku bego banget, sih. Begini saja nggak bisa!”, tandanya harus evaluasi diri, nih!

Memang tidak gampang mengubah kebiasaan menjelek-jelekkan diri sendiri. Tapi dengan niat dan usaha, apa pun bisa dilakukan. Langkah pertama adalah mengenali suara-suara negatif yang suka bermunculan di kepala. Setiap suara itu muncul, langsung hentikan pemikiran negatif itu. Kata-kata yang biasa dipakai saat berbicara dengan diri sendiri bisa jadi mantra. Rugi banget, kan, kalau pakai mantra negatif untuk diri sendiri.

Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri

Sebisa mungkin cari tahu dari mana asalnya mantra-mantra negatif ini dan ganti dengan mantra-mantra yang lebih positif. Gali kualitas-kualitas positif dirimu dan kalau perlu buat daftarnya untuk jadi bahan komentar diri yang positif. Jadi kalau ada suara yang bilang, “Aku ini nggak ada apa-apanya”, langsung timpa dengan mantra positif yang berkata, “Meski banyak kekurangan, aku juga punya banyak kelebihan, seperti (isi sesuai daftar kelebihan dirimu)”.

Dengan membiasakan diri berbicara baik pada diri sendiri, kamu membangun kepercayaan diri yang lebih kuat. Walaupun mungkin awalnya masih kurang percaya dengan mantra-mantra positif tersebut—dan suara-suara negatif itu muncul lagi—dengan mempraktikkannya setiap hari, kepercayaan dirimu akan bertambah sampai akhirnya mantra-mantra positif itu jadi kenyataan yang kamu yakini.

Kekuatan pikiran bukan sekadar omong kosong. Tapi, bukan berarti juga kalau kamu percaya sesuatu yang berbeda dari kenyataan—misalnya bahwa kamu pintar matematika padahal sebenarnya tidak juga—maka serta-merta kenyataan akan berubah. Logikanya adalah kalau kamu percaya bahwa kamu bisa melakukan sesuatu, kamu akan berusaha sebaik mungkin sehingga peluangmu untuk berhasil tambah besar. Dan saat kamu berhasil, kepercayaanmu akan diri sendiri terbukti.

Berbaik Hati dengan Diri Sendiri

Kalau melihat orang lain kesusahan, insting kita biasanya ingin membantu. Coba terapkan ini kepada diri sendiri. Saat sedang kesusahan, bantu juga diri sendiri. Misalnya, saat patah hati, ketimbang terus-terusan mengomeli diri sendiri dan kecewa berlarut-larut, lebih baik menyemangati diri bahwa ini semua ada hikmahnya dan dari pengalaman ini kamu bisa menghindari kegagalan yang sama nantinya.

Berbaik hati dengan diri sendiri ini juga bisa dipraktikkan dengan memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang kamu lakukan di masa lalu. Fokus saja pada pelajaran positif yang bisa kamu ambil dari kesalahan-kesalahan yang sudah lewat. Setelah itu, waktunya move on, deh.

Move on tidak hanya berlaku dalam hal melupakan mantan dan mencari pacar baru. Move on penting supaya kamu tidak berkutat di masalah yang sama terus dan tidak takut mencoba lagi. Caranya? Biarkan yang sudah berlalu tetap ada di masa lalu. Gunakan masa kini untuk cari pengalaman baru yang bisa memperkaya diri dan menambah percaya diri demi masa depan!

 

Dian Agustino

By |January 21st, 2016|Edukasi|0 Comments

About the Author:

Communication and Youth Engagement Officer, Unala.

Leave A Comment