Kenapa Kita Merayakan Hari Perempuan Internasional?

IWD_UNFPA

Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) ramai dibicarakan di mana-mana. Hari istimewa ini memang dirayakan setiap 8 Maret di berbagai belahan dunia. Bahkan Facebook dan Google pun merayakannya, dengan memasang desain dan video khusus IWD yang mengglobal dan menginspirasi.

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya kenapa dan untuk apa kita merayakan hari khusus untuk perempuan. Daripada bingung, mendingan lanjut baca artikel ini, yuk!

 

Fakta-fakta Seru IWD

IWD diperingati untuk merayakan capaian-capaian perempuan di berbagai bidang—dari ekonomi, politik, hingga sosial dan budaya, menurut situs resmi IWD. Hari yang diperingati oleh berbagai elemen masyarakat ini juga mengingatkan kita semua akan pentingnya kesetaraan gender. Perayaan ini adalah hasil dari kerja keras perempuan di berbagai belahan dunia yang bekerja sama dan saling mendukung perjuangan di negara masing-masing.

  • IWD pertama kali dirayakan pada tahun 1911, setelah dicetus oleh Clara Zetkin, pemimpin “Women’s Office” Partai Sosial Demokratik Jerman pada International Conference on Working Women di Copenhagen, Denmark, pada tahun 1910.
  • IWD pertama kali dirayakan di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss pada 19 Maret. Hari itu, lebih dari sejuta perempuan dan laki-laki berkampanye untuk memperjuangkan hak perempuan untuk bekerja, bersuara (memilih dalam Pemilu), menjabat dalam pemerintahan, dan untuk mengakhiri diskriminasi.
  • IWD pertama kali dirayakan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau United Nations (UN) pada tahun 1975.
  • IWD akhirnya diadopsi di resolusi Majelis Umum PBB tahun 1977 yang menyatakan bahwa hari PBB untuk hak-hak perempuan akan dirayakan setiap tahunnya oleh negara-negara anggota.
  • IWD dibuatkan situs resmi bernama internationalwomensday.com yang diluncurkan pada tahun 2001.
  • IWD dirayakan setiap tahunnya dengan tema khusus. Tema tahun ini adalah #PledgeforParity (sumpah untuk kesetaraan). Setiap orang yang peduli didorong untuk ikut ambil bagian dalam upaya mencapai kesetaraan gender, dan menandatangani petisi online di situs resmi IWD untuk menegaskan komitmen ini.

 

Kesetaraan Gender di Indonesia

Untuk merayakan IWD di Indonesia, kita harus memahami dulu apa yang dinamakan kesetaraan gender dan bagaimana kondisinya di Indonesia.

Kesetaraan gender adalah kondisi di mana perempuan dan laki-laki mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang di masyarakat, termasuk partisipasi ekonomi dan politik. Kondisi ini bisa diukur dengan melihat perwakilan perempuan dan laki-laki di berbagai peran, menurut situs genderequality.com. Sederhananya, kita bisa menilai apakah peran gender di suatu masyarakat sudah setara atau tidak dengan melihat apakah perempuan dan laki-laki punya peluang sama untuk, misalnya, bersekolah, bekerja di berbagai bidang, dan mengakses layanan kesehatan.

Saat ini kesetaraan gender di Indonesia baru mencapai peringkat 92 dari 145 negara, menurut Global Gender Report 2015 yang dirilis oleh World Economic Forum. Skor Indonesia di laporan ini adalah 0,681 (skor sempurna di laporan ini adalah 1). Artinya, sudah ada berbagai perkembangan positif bagi perempuan di Indonesia, meski kondisinya belum ideal.

Dalam partisipasi politik, misalnya, sudah ada kebijakan afirmatif yang mewajibkan kuota minimal 30 persen untuk keterwakilan perempuan di parlemen (lewat UU No. 8 tahun 2012 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, dan DPRD). Walaupun begitu, praktiknya tidak semudah itu. Kenyataannya, hanya 97 perempuan (17,3 persen) yang terpilih sebagai anggota DPR periode 2014-2019—penurunan dari 103 orang (18,3 persen) di periode 2009-2014.

Di bidang kesehatan reproduksi juga masih banyak ketimpangan. Ini bisa dilihat dari, misalnya, usia legal pernikahan untuk perempuan adalah 16 tahun, sementara untuk laki-laki adalah 19 tahun. Ini banyak menuai kontroversi, terlebih karena di UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak usia legal untuk menikah, baik untuk perempuan maupun laki-laki, adalah minimal 18 tahun. Akibatnya, menurut laporan PBB tahun 2012 diperkirakan ada 14,4 persen remaja perempuan berusia 15-19 tahun yang sudah menikah atau bercerai, dibandingkan 6,1 persen remaja laki-laki di rentang usia yang sama. Padahal, pernikahan di usia dini bisa membuat perempuan terkena risiko penyakit karena organ reproduksinya belum siap, dan pendidikannya terhambat.

Kasus kekerasan terhadap perempuan, angka kematian ibu (AKI), dan kehamilan tidak diinginkan (KTD) adalah contoh-contoh lain bentuk ketimpangan gender di bidang kesehatan reproduksi. Kasus-kasus ini tidak hanya merugikan perempuan, tapi juga masyarakat secara keseluruhan. Karena saat hak-haknya tidak terpenuhi, perempuan—yang merupakan bagian penting dari masyarakat seperti halnya laki-laki—tidak bisa ikut berperan aktif secara maksimal dalam memajukan masyarakat.

Dengan mengetahui fakta-fakta di atas, kita jadi lebih memahami maksud dan tujuan perayaan IWD setiap tahunnya. Setelah memahami, akan lebih bagus lagi kalau kita ikut aktif berkontribusi dalam pencapaian kesetaraan gender, dengan cara kita masing-masing.

Penting juga untuk diingat bahwa kesetaraan gender bukan hanya urusan perempuan. Upaya untuk mencapai kesetaraan melibatkan perempuan dan laki-laki, sehingga upaya dan kerja sama dari kita semua dibutuhkan.

Menurut kamu, dalam bidang apa lagi kita bisa menemukan ketidaksetaraan gender di Indonesia? Tulis pendapatmu di bagian komentar di bawah, ya!

 

Dian Agustino

Foto: Dok. UNFPA Indonesia

By |March 8th, 2016|Edukasi|0 Comments

About the Author:

Communication and Youth Engagement Officer, Unala.

Leave A Comment