Edukasi , By

Bahagia Itu Gampang

youth faces

Suka takjub kalau melihat teman yang selalu kelihatan ceria dan tidak pernah susah? Orang-orang bahagia sebenarnya bukannya tidak punya masalah dalam hidup mereka. Mereka cuma tahu caranya untuk tetap berpikiran positif dan menikmati hidup meski sedang stres, capek, kecewa, atau patah hati. Efeknya, orang-orang bahagia ini tidak hanya asyik untuk dijadikan teman, tapi juga sehat, segar bugar, dan biasanya sukses dalam hidup.

Bagaimana caranya supaya bisa bahagia kayak mereka, ya? Kita bisa mencontek kebiasaan-kebiasan orang bahagia supaya bisa tertular bahagia. Mengubah kebiasaan memang gampang-gampang susah. Tapi, membaca tips di bawah ini, yang dikutip dari artikel Time ini, bisa jadi langkah pertama!

Kebiasaan Positif #1: Punya Sesuatu yang Ditunggu-tunggu Setiap Hari

Yang ditunggu-tunggu di sini maksudnya bukan SMS atau telepon dari pacar atau gebetan, ataupun kiriman dari orangtua, lho. Kalau begitu, kita justru menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, yang bikin kita rentan kecewa kalau tidak terpenuhi. Maksudnya di sini adalah membuat rencana harian yang membuat kita bersemangat, misalnya hari ini rencananya mau menonton serial TV atau film kesukaan, nongkrong di angkringan baru yang hits, atau mencoba resep baru. Sesuaikan rencana ini dengan hobi dan kesukaan kita untuk bikin hari-hari jadi lebih menyenangkan!

Kebiasaan Positif #2: Mensyukuri Hal-hal Kecil

Orang-orang bahagia selalu punya alasan untuk bersyukur. Hal-hal kecil yang terlihat sepele seperti matahari yang bersinar cerah, makan makanan favorit, atau tiba-tiba mendengar lagu favorit di mal sudah cukup untuk membuat mereka girang. Kebiasaan ini yang membuat mereka tahan banting menghadapi cobaan hidup.

Kebiasaan Positif #3: Berbaik Hati

Orang-orang bahagia biasanya tidak segan-segan membantu dan berbagi kasih ke orang-orang di sekitarnya. Dari memberi uang ke pengamen sampai menghibur teman yang sedang patah hati, mereka biasanya selalu siap sedia. Intinya, membuat orang senang juga membuat mereka senang.

Kebiasaan Positif #4: Selalu Menyibukkan Diri

Leyeh-leyeh sambil main handphone memang asyik kalau sedang tidak ada kegiatan. Tapi kalau sampai kelamaan, yang ada kita stres atau bosan. Nah, orang yang bahagia biasanya selalu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang memuaskan hati. Kegiatan ini bisa beragam, tergantung hobi dan kesukaan masing-masing. Oh ya, tak jarang pula orang yang bahagia punya tujuan hidup atau cita-cita yang jelas. Jadi, mereka juga memilih kegiatan yang bisa membantu mencapai cita-cita itu. Misalnya saja kalau kita bercita-cita jadi penulis, kita bisa mengisi waktu dengan membaca, serta mengambil kelas menulis dan kelas bahasa.

Kebiasaan Positif #5: Bertanggung Jawab atas Tindakan Sendiri

Ini artinya, orang-orang bahagia tidak takut atau malu mengakui kesalahan sendiri. Soalnya mereka sadar, dengan jujur pada diri sendiri, mereka bisa belajar dari kesalahan dan meningkatkan kualitas diri.

Kebiasaan Positif #6: Memaafkan Diri Sendiri

Dengan mengakui dan memperbaiki kesalahan sendiri, orang-orang bahagia jadi lebih mudah untuk memaafkan diri sendiri. Ini juga ada hubungannya dengan kebiasaan mereka berbaik hati dengan orang—mereka tahu pentingnya berbaik hati pada semua orang, terutama diri sendiri.

Kebiasaan Positif #7: Tahu Kapan Harus Move On

Setelah memaafkan diri atas kesalahan yang sudah dibuat, orang-orang bahagia tidak menyerah begitu saja. Mereka bisa dengan optimis memulai lagi lembaran yang baru. Mereka tahu kalau kesalahan dan kekalahan bukan akhir dari segalanya.

Kebiasaan Positif #8: Tidak Membanding-bandingkan Diri dengan Orang Lain

Nah, ini kebiasaan yang tidak kalah penting. Membanding-bandingkan diri dengan orang lain cuma bikin capek karena kita sibuk iri sama orang lain sementara kelebihan diri sendiri kita lupakan. Orang-orang bahagia bisa melihat bahwa setiap orang punya kekuatan dan kelemahan sendiri, jadi mereka menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitas diri ketimbang memusingkan kualitas orang lain.

Jadi, sudah siap untuk bahagia?

 

Foto: Dok. UNFPA Indonesia